Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden 2019 melahirkan beragam istilah baru. Salah satu istilah yang kuat mengemuka adalah cebong dan kampret. Istilah cebong mengacu kepada pendukung Jokowi dan kampret identik dengan pendukung Prabowo.

Tak hanya cebong dan kampret, pilpres 2019 juga melahirkan banyak istilah. Kaum sumbu pendek, bani micin, kaum bumi datar, mukidi dan jaenudin naciro adalah beberapa istilah yang mendadak populer imbas dari pilpres 2019.

Fenomena ini tak luput dari perhatian Clara Endah Triastuti. Peneliti di Pusat Kajian Komunikasi UI seperti dikutip dari BBC Indonesia menyebutkan pengguna internet memang tidak hanya mengkonsumsi konten tapi juga menjadi menciptakan konten.

“Pergerakan politik menurut saya sekarang berubah. Mereka yang melakukan propaganda politik mulai melihat pasar juga dan mulai mengubah bentuk-bentuk propagandanya. Jadi politik itu tidak diletakkan dalam ranah formal, tapi dalam ranah yang populer,” ujar Clara menjelaskan fenomena lahirnya beragam istilah dalam Pilpres 2019.

Diantara banyaknya istilah baru dalam pilpres 2019, cebong dan kampret bisa dikatakan adalah istilah terpopuler. Para pelaku politik pun lekat dengan kedua istilah tadi. Tak terkecuali Jokowi dan Prabowo.

Pada 22 April 2019, dalam wawancara bersama wartawan senior iNews Ariyo Ardi, Jokowi menanggapi istilah cebong dan kampret.

“Sudahlah. Kehendak rakyat sudah ditentukan di 17 April kemarin, di hari pencoblosan sudah. Nah setelah itu, sudahlah enggak usah ada lagi istilah cebong, kampret. Stop,” ucap Jokowi kala itu.

Tak hanya Jokowi, istilah cebong dan kampret juga akrab bagi Prabowo. “Sudahlah, enggak ada lagi cebong-cebong. Enggak ada lagi kampret-kampret,” ujar Prabowo saat konferensi pers bersama Joko Widodo di Stasiun MRT Senayan, Jakarta, Sabtu (13/7/2019).

Dalam rekaman layanan Big Data Evello, istilah cebong dan kampret kerap mewarnai kerasnya para pendukung Pilpres 2019 di media sosial. Evello mencatat pada periode Juni 2019, video bertema cebong dan kampret menuai komentar lebih dari 77 ribu kali.

Asal Muasal Cebong dan Kampret

Dirangkum dari berbagai sumber, istilah cebong dan kampret merupakan kelanjutan dari istilah panasbung dan panastak pada gelaran Pilpres 2014. Saat itu, istilah Pasukan Nasi Bungkus (Panasbung) kerap dilekatkan pada kubu Prabowo-Hatta. Nasi bungkus mengacu pada dukungan ormas tertentu pada Prabowo-Hatta yang dianggap kerap melakukan demo dan mendapatkan jatah nasi bungkus.

Sementara Pasukan Nasi Kotak (Panastak) merupakan olok-olok yang dilekatkan pada kubu Jokowi-JK dengan baju kotak-kotak sebagai simbol kampanye mereka.

Penggunaan istilah-istilah dalam perhetalan politik pun berlanjut. Panasbung dan Panastak berganti menjadi cebong dan kampret. Istilah cebong lahir sebagai respon terhadap kebiasaan Jokowi kala itu yang dianggap gemar memelihara kodok. Akibatnya, label kecebong atau cebong kerap digunakan untuk mengolok pendukung Jokowi.

Tak mau kalah, istilah kampret mulai digunakan oleh pendukung Jokowi. Istilah ini lahir dikarenakan nama koalisi yang dipakai oleh Prabowo-Hatta saat Pilpres 2014, KMP atau Koalisi Merah Putih. Saat itu, KMP kerap diplesetkan menjadi KMPret yang kemudian berkembang menjadi kampret.

Cebong dan Kampret Dalam Potret Big Data di Kanal Youtube

Olok-olok cebong dan kampret bisa dikatakan sangat serius di media sosial. Pendukung Jokowi dan Prabowo tidak hanya menggunakan kedua istilah dalam bentuk kata di media sosial melainkan telah mengubahnya dalam bentuk konten yang diproduksi dengan niatan serius. Berbentuk gambar bergerak dan suara alias video.

Di kanal youtube, video-video dengan embel-embel cebong dan kampret beredar sangat luas. Jumlah komentar mencapai ribuan dan jumlah tayang mencapai jutaan seperti terekam dalam pantauan Big Data Evello.

Berdasarkan analisa pada periode 1-31 Juli 2019, evello menyimpulkan bahwa pendukung Jokowi atau cebong menguasai permainan di kanal Youtube. Metrik ukuran yang diambil memperlihatkan kelompok cebong berhasil meningkatkan sebaran audiens untuk video-video bertema kampret.

Kelompok cebong pada periode Juli 2019 mampu membuat konten video sehingga kelompok kampret lebih ramai menuai komentar/olok-olok.

Gambar 1. Perbandingan Jumlah Komentar Video di Youtube dengan Tema Cebong vs Kampret
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-30 Juni 2019 di Kanal Youtube

Video-video bertemakan kampret juga lebih ramai ditonton di kanal Youtube. Tercatat, video bertemakan kampret ditonton 58% lebih banyak dibandingkan video bertemakan cebong.

Pada periode yang sama di bulan Juni 2019, kelompok cebong terlihat menguasai penggunaan kanal youtube. Sebaran komentar video bertemakan kampret lebih banyak di youtube dibandingkan cebong menunjukkan bahwa video-video bertema kampret lebih ramai mengundang perhatian youtuber.

Hasil pembandingan data evello pada periode Juni dan Juli 2019 menunjukkan bahwa aktivitas kelompok cebong meningkat dibandingkan kelompok kampret. Data pada Gambar 1 dan 2 menunjukkan dominasi kelompok cebong di kanal youtube dibandingkan kelompok kampret.

Gambar 2. Perbandingan Jumlah Komentar Video di Youtube dengan Tema Cebong vs Kampret. Kelompok cebong dominan menciptakan opini tentang kelompok kampret.
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-31 Juli 2019 di Kanal Youtube

Dominasi kelompok cebong di kanal youtube juga terlihat dengan tingginya jumlah tayang video bertemakan kampret. Pada periode Juli 2019, video-video bertemakan kampret ditonton sebanyak 6.118.789 kali. Sementara, video bertemakan cebong ditonton sebanyak 4.409.420 kali.

Gambar 3. Perbandingan Jumlah Tayang Video di Youtube dengan Tema Cebong vs Kampret.
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-31 Juli 2019 di Kanal Youtube

Pantauan pada Juni 2019 menunjukkan dominasi yang kuat kelompok cebong dibandingkan kelompok kampret. Data analisa evello memperlihatkan video bertemakan kampret ditonton 87% lebih banyak dibandingkan cebong. Jumlah ini tentu lebih besar dibandingkan pada periode Juli 2019.

Pada periode Juni 2019 Kampret ditonton sebanyak 9.297.327 kali. Sementara cebong ditonton lebih sedikit dengan jumlah tayang mencapai 1.313.238 kali.

Gambar 4. Perbandingan Jumlah Tayang Video di Youtube dengan Tema Cebong vs Kampret.
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-30 Juni 2019 di Kanal Youtube

Cebong dan Kampret Dalam Potret Big Data di Media Sosial

Pertarungan cebong dan kampret di media sosial (twitter & facebook) tak kalah ramainya. Produksi konten yang lebih mudah di media sosial membuat keramaian perseteruan cebong dan kampret tak kalah seru dibandingkan ramainya komentar di youtube.

Data Evello pada Juli 2019 menunjukkan bahwa perseteruan cebong dan kampret tak lantas surut karena pertemuan rekonsiliasi Jokowi dan Prabowo pada 13 Juli 2019 di stasiun MRT Lebak Bulus. Hasil analisa pada media sosial memperlihatkan perseteruan cebong dan kampret ternyata sangat mendalam.

Sepanjang Juli 2019, aksi saling menertawakan antara kelompok cebong dan kampret mencapai jumlah luar biasa. Emoticon saling menertawakan mencapai angka 84.838.

Data evello menunjukkan emoticon tawa untuk cebong lebih tinggi 74% lebih banyak dibandingkan 26% untuk kampret. Emoticon untuk cebong 63.022 dan 21.816 untuk kampret. Angka-angka ini menunjukkan bahwa sebaran konten dengan nada ejekan untuk cebong lebih banyak ditertawakan dibandingkan dengan sebaran konten untuk kampret.

Gambar 5. Perbandingan Jumlah Emoticon Tawa Untuk Masing-Masing Kelompok Cebong vs Kampret.
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-31 Juli 2019 di Media Sosial

Sejalan dengan tingginya penggunaan emoticon tawa, persebaran unggahan di media sosial tentang cebong dan kampret terbilang masih sangat tinggi pada Juli 2019. Total sebaran mencapai angka 508.219 shared.

Dalam hal sebaran konten, analisa data evello menunjukkan bahwa kelompok kampret dominan dibandingkan kelompok cebong. Kampret mampu membuat sebaran konten lebih tinggi 58% dibandingkan dengan sebaran yang dibuat oleh kelompok cebong dengan capaian 42%.

Gambar 6. Perbandingan Jumlah Sebaran Konten Bertemakan Cebong vs Kampret di Media Sosial
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-31 Juli 2019 di Media Sosial

Lalu bagaimana warganet lainnya menanggapi sebaran konten cebong dan kampret. Analisa terhadap jumlah komentar di media sosial menunjukkan bahwa konten bertemakan cebong lebih banyak dikomentari dibandingkan kampret.

Konten-konten bertemakan cebong menuai komentar 67% lebih banyak dibandingkan dengan konten kampret. Jumlah tersebut setara dengan 159.320 komentar. Dilain pihak, konten bertema cebong dikomentari sebanyak 78.241 komentar.

Gambar 7. Perbandingan Jumlah Komentar Terhadap Sebaran Konten Bertemakan Cebong vs Kampret di Media Sosial
Sumber Data: Pantauan Evello Periode 1-31 Juli 2019 di Media Sosial

Kesimpulan

  1. Data periode Juli 2019 menunjukkan perseteruan antara cebong dan kampret tidak lantas menurun seiring dengan pertemuan rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo. Polarisasi cebong dan kampret ini diperkirakan akan terus berlangsung walaupun Jokowi dan Prabowo telah bersepakat tak ada lagi cebong dan kampret.
  2. Agenda politik lainnya selain Pilpres diperkirakan dapat menjadi pemicu perseteruan cebong dan kampret akan terus berlangsung. Misalnya dalam agenda Pilkada Gubernur DKI Jakarta (Baca: Mengapa Getah Getih Anies Baswedan Viral?)
  3. Data evello memperlihatkan bahwa kelompok kampret pada Juli 2019 dominan di media sosial dibandingkan cebong. Sementara, cebong memiliki kreativitas yang lebih dominan di kanal youtube dibandingkan kampret.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here