Jejak Big Data Global Warming di Indonesia

0
148

Global Warming menjadi isu lingkungan internasional, tak terkecuali di Indonesia. Sebagai negara yang dikelilingi laut, posisi Indonesia sangat terancam dengan global warming. Suhu bumi yang menghangat, akan melelehkan es di kutub, berakibat naiknya permukaan air laut. Air laut yang naik menggeser garis pantai menjadi beberapa meter ke daratan; beberapa kota yang dekat dengan laut akan tenggelam.

Semua berawal dari efek gas rumah kaca; Karbon dioksida, Metana, Dinitrogen oksida dan Gas-gas fluorin. Terbanyak adalah CO2, sisa pembakaran ini menjebak panas matahari. Penggunaan bahan bakar fosil tanpa kontrol dalam beberapa dekade ini meningkatkan Karbon dioksida secara signifikan. Sama seperti saat kita tertutup di dalam mobil tanpa AC. Panas matahari bisa masuk, tetapi tidak bisa keluar. Pada kondisi sebenarnya, panas matahari masuk ke bumi, kemudian diikat oleh gas rumah kaca. Rumah kaca sendiri merupakan wahana pembiakan tanaman yang biasa digunakan pada lingkungan sub-tropis.

Laporan perubahan cuaca dan pemanasan global PBB mengungkap 2019 menjadi tahun ‘terpanas’ dalam periode lima tahun terakhir. Laporan PBB tersebut menuliskan rata-rata suhu global pada 2015-2019 berada dalam jalur ‘terpanas’. Dikutip dari AFP, iklim periode ini diperkirakan naik 1,1 derajat Celcius di atas era pra-industri (1850-1900) dan 0,2 derajat Celcius lebih hangat sejak 2011-2015. Empat tahun terakhir ini sudah menjadi terpanas sejak pencatatan iklim dan cuaca dimulai pada 1850.

Sementara itu dari pemantauan Evello periode Januari-September 2019, sebaran percakapan seputar Perubahan Iklim dan Pemanasan Global secara bertahap terus naik (Gambar 1).

Gambar 1. Rekaman percakapan warganet di media sosial dan artikel yang dimuat portal berita
Share Index Juli untuk target Perubahan Iklim

Topik Perubahan Iklim mengalami lonjakan pada bulan Juli dan September. Di Bulan Juli ada pertemuan atara Anies Baswedan dan Dubes Denmark, Rasmus A. Kristensen, membicarakan perubahan iklim dan polusi udara. Respon pengguna Twitter mendongkrak publikasi pertemuan ini. Secara agregat perbincangan di Twitter terkait tema ini ada 947 cuitan. 737 Artikel coverage media dan 18 Video termuat di Youtube.

Sedangkan di bulan September ini, lonjakan percakapan netizen sebagai respon dari pernyataan Wapres Jusuf Kalla, bahwa kebakaran hutan di Indonesia diperparah dengan adanya perubahan iklim. Selain itu juga ada Greta Thunberg. Thunberg aktivis lingkungan mendapat kesempatan berbicara di markas PBB, Senin (23/9/2019). Gadis 16 tahun asal Swedia ini menyampaikan pidato emosional di depan 60 pemimpin negara. Dia bahkan berani memarahi para pemimpin dunia yang hadir di konferensi itu. Dalam pidatonya, Thunberg menuding para pemimpin dunia telah mengkhianati generasi muda karena gagal mengatasi masalah.

Artikel yang paling banyak dibagikan pengguna Facebook berasal dari viva.co.id. Berita bertajuk ‘Walhi Sebut Proyek OBOR RI-China Tambah Rusak Lingkungan’ telah di bagikan 1,200 kali, sepanjang tahun ini. Kemudian berita dari kompas.com, dengan judul Kurangi Polusi Udara, Anies Ingin Belajar dari China telah disebar 2.600 kali.

Kesimpulan

Secara keseluruhan Perubahan Iklim dan Pemanasan Global, baik percakapan di media sosial dan jumlah artikel yang dimuat portal berita tanah air angkanya bisa disimak pada Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2. Agregat percakapan dan jumlah publikasi terkait target Perubahan Iklim dan Pemanasan Global, periode Januari-September 2019

Petikan informasi sepanjang tahun 2019 ini terhadap Perubahan Iklim, pemberitaan sebanyak 5,293 kali, 3.517 cuitan di Twitter dan 40 video di Youtube. Sedangkan Isu Pemanasan Global ditulis media dalam 1,526 artikel, 360 cuitan pengguna Twitter dan 14 video di kanal Youtube.

Sebagai pembanding pada periode yang sama pengguna Twitter membincangkan Polusi 163.000 kali, dan mendapat ekspose di media online 14.000 kali. Topik Kebakaran Hutan dibagikan pengguna Twitter sampai 295,687 kali dan media coverage mencapai 49,996 berita. Keseluruhan topik Perubahan Iklim dan Pemanasan Global belum menarik perhatian publik.

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia perlu menggencarkan informasi mengenai bahaya perubahan iklim dan global warming. Metode tercepat dan efektif saat ini dengan kampanye digital terintegrasi, dilakukan secara masif dan sistematis, untuk mencapai tujuan agar masyarakat secara sadar dengan sukarela mau menjalankan langkah-langkah pengurangan emisi gas rumah kaca dan menjaga lingkungan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here