Karhutla dan ‘Festival Asap Tahunan’

0
160

“Festival Asap Tahunan…sampai kapan udara di Riau seperti Ini….semoga semuanya cepat berlalu….sebarkan ke khalayak ramai….kami masyarakat Riau memohon doa supaya diberikan kesehatan dan kesabaran dalam menghadapi bencana asap ini….” (Setia Hati Channel)

Analisa Big Data Evello kali ini tertuju pada ‘interest’ Tren Bencana dengan empat target: Gempa, Erupsi, dan Banjir serta Kebakaran. Walhasil, tren bencana kebakaran grafiknya terlihat melonjak dengan tingkat sebaran percakapan dan pemberitaan paling ramai di media dan media social.

Kenyataannya, bencana kebakaran khususnya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) memang tengah melanda berbagai daerah di Indonesia. Periode pemantauan pada 08 – 15 September 2019, mendudukkan tren bencana karhutla keluar sebagai isu paling menarik minat publik  (masyarakat dan pemerintah).

Dampak karhutla, dampak kerugiannya bagi negara, kerusakan lingkungan, musnahnya ekosistem, dampak bagi kesehatan manusia, dan tak kurang tercorengnya nama baik Indonesia di mata negara tetangga, dampak negative kabut asap akibat karhutla demikian signifikan. Seluruh dampak ini telah memantik ragam reaksi publik, salah satunya seperti ungkapan keprihatinan disampaikan (Youtuber: Setia Hati Channel) pada sepenggal kalimat di atas.    

Gambar 1. Bencana Kebakaran Mendominasi Percakapan Publik

Perhatikan pada gambar 1, periode ini menampilkan porsi percakapan public tentang karhutla menempati total 39.229 data. Data ini jauh meninggalkan tren bencana gempa dengan 2.681, dan 82 data soal erupsi, serta banjir sebesar 3.486 percakapan. Bencana akibat karhutla seharusnya dinyatakan penting berdasar besarnya jumlah data ini.

Fokus Perhatian Publik

Gambar 2. Berita Viral Bencana Kebakaran dan Kabut Asap

Evello Virality menampilkan potongan pemberitaan dari berbagai media seperti kompas, cnnindonesia, dan viva muncul sebagai media dengan berita viral terpantau Big Data Evello. Ulasan menyoal peringatan ibu hamil hingga balita dilarang keluar rumah akibat kabut asap pekat di Pekanbaru, tentang Greenpeace sebut kabut asap Riau sebagai indikasi kegagalan pemerintah. Kemudian soal kabut asap kiriman dari Indonesia ke Malaysia dan Singapura, dan masalah kualitas udara di Riau berada pada level mengkhawatirkan.  

Berdasar data berita viral tersebut, secara garis besar dapat terlihat bahwa publik menaruh perhatian lebih pada dampak akibat karhutla, informasi tentang kabut asap paling diminati publik dibanding isu lain seputar bencana karhutla semisal korban bencana, atau pelaku pembakaran liar.

Kondisi serupa juga terjadi melalui pemantauan pada video dengan jumlah terbanyak menarik perhatian pemirsa Youtube. Perhatikan gambar 3 di bawah ini, jumlah video ditonton mengulas isu kebakaran mencapai  463,452 views dengan porsi besar telah ditonton terutama mengulas dampak kabut asap. Persoalan kabut asap terlihat menjadi frasa kunci perhatian publik.

Gambar 3. Video Terbanyak Ditonton Pemirsa Mengulas Kabut Asap dan Kualitas Udara

Sejauh ini Evello telah mengulas tentang seberapa besar dan apa saja yang menjadi fokus penting diulas dalam pemberitaan dan percakapan public terkait isu bencana kebakaran. Selanjutnya, dan tak kalah penting untuk mengetahui fokus perhatian publik ini, percakapan tentang karhutla dan kabut asap tersebar di daerah mana saja melalui peta sebaran percakapan di lingkup wilayah Indonesia.

Isu Berskala Nasional

Sebaran keseluruhan percakapan bencana kebakaran nyaris merata di seluruh wilayah provinsi di tanah air. Menariknya, pulau Jawa ternyata paling banyak mendapat sebaran percakapan public jika dibandingkan daerah-daerah lain termasuk pada daerah terdampak bencana kebakaran seperti di Riau dan Kalimantan.

Gambar 4. Peta Sebaran Percakapan Bencana Kebakaran

Sebagai perbandingan, jumlah percakapan di Jawa Barat, Jakarta, dan Jawa Tengah misalnya, mendapat sebaran masing-masing 4000 lebih percakapan, sedang di Riau atau di Kalimantan ternyata kurang dari 800 sebaran percakapan. Konsentrasi besar perhatian publik di kota-kota di tanah Jawa dan daerah lain di Indonesia cukup unik, kondisi persebaran percakapan isu bencana kebakaran pada akhirnya membuktikan bahwa persoalan kabut asap merupakan isu dengan skala nasional.

Isu ini kian meruncing di mata publik terutama karena pihak-pihak terkait dan pemerintah dinilai gagal melakukan pencegahan bencana kebakaran dan kabut asap. Seperti apa dan kepada siapa percakapan publik ditujukan? Berikut tema-tema besar pada linimasa twitter akan menguak hal ini.

Gambar 5. Awan Tema Diperbincangkan Publik pada Linimasa Twitter Terkait Bencana Kebakaran

Percakapan Publik Bertema Kualitas Udara

Percakapan publik bertema kualitas udara muncul melalui akun-akun unik pada linimasa twitter. Pesan percakapan ini menyoal kualitas udara di Riau sangat tidak sehat akibat pekatnya kabut asap disebabkan karhutla tak kunjung usai. Terlihat bahwa percakapan ini juga ditujukan tak hanya kepada masyarakat namun juga ditujukan kepada seluruh pihak terkait, utamanya pemerintah dan pemerintah daerah agar segera menanggulangi persoalan kabut asap yang terjadi di Riau.

Percakapan Publik Mengarah ke Jokowi

Bagian ini tercatat memiliki lebih dari 7000 percakapan bertema Jokowi, percakapan ini jelas ditujukan kepada pemerintahan Jokowi. Salah satu isi percakapan meminta agar karhutla dan kabut asap dijadikan bencana nasional, dan butuh tindakan lebih nyata dari Presiden Jokowi selaku pemerintah dan pihak terkait untuk segera menangani persoalan ini hingga tuntas. Percakapan lain terpantau berisi sindiran dan kritik terhadap kinerja Jokowi.

Percakapan Publik Menyoal Debat Pilpres

Percakapan selanjutnya memuat gelembung awan tema cukup besar berasal dari akun @andre_rosiade. Akun ini mengkritisi debat pilpres di mana “Jokowi kala itu menyebut tidak ada lagi kebakaran hutan, namun justru sebaliknnya kebakaran hutan kini terjadi lagi”.   

Kesimpulan Evello

Gambar 6. Seluruh Awan Tema Menyelimuti Frasa Kunci “Kabut Asap”

Sedari awal kita telah menganalisa secara gamblang tentang besaran data dan sebaran pemberitaan mendorong tren bencana kebakaran melonjak drastis dalam grafik perhatian publik. Bagaimana berita viral dan video terbanyak ditonton pemirsa mengulas bencana kebakaran ternyata memuat informasi “kabut asap”, hingga sampai pada isu kabut asap sebagai isu berskala nasional dalam distribusi sebaran percakapan.

Tak kurang, awan tema pada linimasa twitter juga memunculkan tiga frasa dalam percakapan publik, dan kepada siapa seluruh percakapan tersebut ditujukan. Seluruhnya kian mengarah pada satu frasa kunci yakni “kabut asap”. Mengapa frasa kabut asap muncul sebagai kata kunci penting dalam tren percakapan bencana kebakaran?

Kesimpulan Evello akan didapat melalui gambar 6 di atas, tema “kebakaran/karhutla”, “pekanbaru/riau”, “kabupaten/provinsi”, “berita provinsi/berita kota”, seluruhnya melingkupi frasa “kabut asap” di media online.  Seluruh frasa yang muncul jika digabungkan menjadi sebuah kalimat kesimpulan, maka akan didapat seperti berikut:

“Kabut asap merupakan dampak dari karhutla yang kini terjadi di beberapa daerah sangat berbahaya bagi kesehatan manusia (makhluk hidup), juga kerusakan lingkungan dan musnahnya eksosistem akibat karhutla. Negara pun mengalami kerugian sangat besar, citra negara menjadi rusak sebab kabut asap mengganggu negara tetangga”.

“Publik di seluruh tanah air menaruh perhatian besar pada upaya penanggulangan bencana kabut asap ini oleh seluruh pihak terkait, utamanya pemerintah di tingkat kabupten/provinsi, maupun pemerintah pusat hingga tuntas ke akar-akarnya. Publik pun menyiratkan harapan besar agar persoalan kabut asap dapat segera diakhiri, dan bencana karhutla tidak lagi terjadi di tahun-tahun mendatang hingga apa yang disebut dengan istilah ‘festival asap tahunan’ menjadi yang terakhir di tahun 2019 ini”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here