Menilai Tingkat Kepuasan Demokrasi Kita ; Perspektif Big Data

0
156
Top 8 berita tentang BAWASLU yang paling banyak menarik perhatian warganet. Ke-8 berita ini mengandung aspek sentimen positif bagi BAWASLU

Ketidakpuasan berdemokrasi

Demokrasi telah berjalan cukup lama. Tercatat sejak tahun 508-507 SM, saat warga Athena membentuk negara yang dianggap sebagai negara demokrasi pertama. Kini di abad 21, bagaimana jalannya berdemokrasi ini secara umum di beberapa negara? Bagaimana Indonesia ?


Gambar 1. Hasil survei Pew Research Center seputar kepuasan berdemokrasi di 27 negara

Marah pada elit politik, ketidakpuasan keadaan ekonomi dan kecemasan tentang perubahan sosial yang cepat telah memicu pergolakan politik di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir. Seperti yang ditunjukkan temuan dari survei Pew Research Center, pandangan tentang performa sistem demokrasi terungkap buruk di banyak negara. Di 27 negara yang disurvei, rerata sebanyak 51% menyatakan tidak puas dengan bagaimana demokrasi berjalan di negara mereka; hanya 45% yang puas.

Hasil riset Pew Research Center seperti pada Gambar 1 menunjukkan bahwa munculnya ketidakpuasan berdemokrasi dipicu dengan kondisi ekonomi yang buruk, ketidakpedulian elit politik pada aspirasi dan tidak adanya perlindungan kebebasan berpendapat. Temuan ini melibatkan 30.133 orang di 27 negara dari 14 Mei hingga 12 Agustus 2018.

Penilaian tentang seberapa baik demokrasi berjalan sangat bervariasi di berbagai negara. Di Eropa, misalnya, lebih dari enam dari sepuluh orang Swedia dan Belanda puas dengan keadaan demokrasi saat ini, sementara mayoritas besar di Italia, Spanyol dan Yunani tidak puas.

Delapan dari sepuluh orang Amerika yang mengatakan situasi ekonomi nasional buruk juga tidak puas dengan kinerja demokrasi negara itu, dibandingkan dengan hanya 46% dari mereka yang percaya bahwa situasi ekonomi baik. Mengenai jaminan kebebasan berpendapat, tujuh dari 10 (74%) warga Amerika menjawab tidak berjalan baik, berbanding dengan 51% yang percaya adanya perlindungan pada hak kebebasan berpendapat. Kekecewaan dengan politisi juga bisa bermuara pada ketidakpuasan kinerja demokrasi. Masih di Amerika, 67% warganya percaya bahwa politisi kurang perhatian dan tidak mendengar suara konstituennya berbanding 44%, yang menganggap hal itu tidak benar.

Di India, tujuh dari sepuluh warganya (68%) menyuarakan ekonomi yang buruk. Responden yang percaya dengan perlindungan hak kebebasan berpendapat ada 52%. Sedangkan isu elit politik yang tidak berani menyuarakan kepentingan orang banyak dipercaya empat dari sepuluh orang (45%)

Kondisi demokrasi yang berjalan buruk di banyak negara di anggap umum. Di seluruh dunia, lebih banyak orang tidak bahagia dengan suasana demokrasi di negara mereka, termasuk di Indonesia. Banyak juga yang mengatakan para politisi di negara mereka korup, dan mereka yang memiliki pandangan ini secara konsisten lebih tidak puas dengan bagaimana demokrasi mereka berfungsi.

Di Indonesia terkuak enam dari sepuluh orang (56%) menyatakan kondisi ekonomi buruk dan tidak senang dengan kinerja demokrasi, dibanding dengan hanya 21% dari mereka yang percaya situasi ekonomi baik-baik saja.

Di Indonesia terkuak bahwa enam dari sepuluh orang (56%) menyatakan kondisi ekonomi buruk dan tidak senang dengan kinerja demokrasi, dibanding dengan hanya 21% dari mereka yang percaya situasi ekonomi baik-baik saja.

Selain itu, empat dari sepuluh orang Indonesia beranggapan bahwa elit politik tidak aspiratif. Sedangkan yang percaya dengan wakil rakyat mendengar keluhan masyarakat hanya 31%. Semetara kebebasan berpendapat di muka umum dilindungi negara, hanya diyakini oleh 32% responden.

Sebaliknya, mereka yang percaya lembaga-lembaga negara memiliki kinerja baik – seperti, pengadilan yang berlaku adil bagi semua orang atau adanya kebebasan mengekspresikan pandangan di depan umum – cenderung lebih puas dengan cara kerja demokrasi.

KPU dan Bawaslu dalam Evello Virality

Situasi demokrasi kita tercermin dari persepsi masyarakat tentang Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) saat ini. Fakta berdasarkan Evello Virality effect, big data mengamini hasil riset Pew Research Center ini. Virality Evello menunjukkan konten yang paling banyak dishare di platform facebook. Mengapa ini menjadi krusial? Selanjutnya hal ini akan dibahas terpisah.

Pada periode pantau 1 Oktober 2018 s.d. 13 Mei 2019, total berita yang diamati untuk KPU sebanyak 88.586 artikel dan Bawaslu 46.423 berita. Konten news tentang KPU telah dibagikan lebih dari 2.9 juta kali sedangkan publikasi Bawaslu disebar pengguna Facebook 1,5 juta kali.

Terungkap pada top eight news yang paling banyak dibagikan justru publikasi bernada negatif untuk KPU, seperti terlihat pada Gambar 2 di bawah ini

Gambar 2. Delapan berita seputar KPU yang paling banyak dibagikan netizen

Bagaimana dengan berita Bawaslu yang dibagikan di facebook? Lebih banyak berita positif yang dibagikan untuk Badan Pengawas Pemilu ini.

Berdasarkan Virality, kepercayaan dan dukungan bagi Bawaslu terlihat dari banyaknya berita yang berisi laporan. Delapan artikel Bawaslu pada Gambar 3 di bawah ini , merupakan berita yang paling mendapatkan atensi warganet.

Gambar 3. Berita BAWASLU yang paling mendapatkan atensi warganet.

 Facebook Sumber Informasi

Dewasa ini darimanakah pengguna internet mengakses berita? Apakah langsung ke portal berita atau dari media sosial? Pew Research Center melansir hasil survei di Amerika, Facebook menjadi tempat warganet mencari informasi. Pengguna internet lebih suka mengakses informasi dari media sosial, alih-alih langsung ke portal berita. Empat dari sepuluh orang Amerika (43%) mendapatkan berita dari Facebook. Disusul Youtube 21% dan Twitter ketiga 12%. Jelasnya seperti pada Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 4. Pilihan media sosial warganet Amerika untuk mengakses berita.

Reddit, Twitter, dan Facebook menonjol sebagai situs tempat sebagian besar pengguna menerima berita: 67% pengguna Facebook menerima berita di sana, seperti halnya 71% pengguna Twitter dan 73% pengguna Reddit . Namun, karena basis pengguna Facebook jauh lebih besar daripada Twitter atau Reddit, lebih banyak orang Amerika pada umumnya menerima berita di Facebook daripada di dua situs lainnya.

Sebaran berita Bawaslu sebanyak 2,9 juta dan KPU 1,5 juta kali menandakan tingginya respon publik terhadap pelaksanaan demokrasi di Indonesia.

Di Indonesia juga mengalami hal yang mirip, dimana kencenderungan ini sudah disadari juga oleh perusahaan media. Perusahaan pers baik media cetak, elektronik maupun media online pun kini mempunyai akun resmi mereka di media sosial seperti fanpage Facebook, verified account Twitter, Instagram dan Youtube channel. Stasiun Televisi mempunyai ternakan akun media sosial untuk setiap acara atau program yang mereka siarkan. Sehingga media sosial sekarang menjadi channel tambahan bagi AE perusahan pers untuk mendulang cuan. Bahkan tersedia menu khusus media sosial di ratecard yang terpisah dari saluran inti bagi brand, jika ingin mendapatkan exposure di media sosial.

Sebaran berita Bawaslu sebanyak 2,9 juta dan KPU 1,5 juta kali menandakan tingginya respon publik terhadap pelaksanaan demokrasi di Indonesia.

Kesimpulan

  1. Temuan Pew Research Center mengenai suasana berdemokrasi, di seluruh dunia, termasuk Indonesia, menunjukkan peningkatan ketidakpuasan warga negara terhadap pelaksanaan demokrasi.
  2. Alasan tidak puas dengan demokrasi karena ekonomi yang buruk, elit politik yang tidak amanah dan menurunnya jaminan kebebasan berpendapat di muka umum.
  3. Analisis big data Evello membuktikan situasi demokrasi kita tercermin dari tingginya animo masyarakat pada lembaga penyelenggara pemilu. Masyarakat cenderung membagikan berita negatif tentang KPU dan berita positif Bawaslu.
  4. Pilihan konten Virality Evello yang disebarkan warganet pada poin 3 menunjukkan adanya ketidakpuasan dengan demokrasi kita. Sekaligus merupakan wujud dukungan untuk memperbaiki kondisi demokrasi Indonesia.
  5. Lembaga penyelenggara pemilu perlu menjawab ketidakpuasan masyarakat Indonesia, dalam bentuk perbaikan kinerja. Untuk meningkatkan kualitas demokrasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here