PAPUA BELUM SELESAI ?

0
150
Konten dari publikasi media terkait Wamena, periode 22 September s.d. 5 Oktober 2019, masih terdapat berita tentang kerusuhan dan pengungsi.

Papua dalam tiga bulan terakhir ini seakan tidak bisa kering dari tumpahan darah dan air mata, Manokwari, Sorong, Jayapura, terakhir di Wamena tgl 23 September 2019. Menurut investigasi Komas Ham, kerusuhan dipicu ucapan guru ke muridnya yang disalahpahami sebagai tindakan melecehkan dengan perkataan bernada rasial. Meskipun telah ada upaya konfirmasi, namun massa terkadung terprovokasi. Isu bergulir bak bola salju, pecah menjadi pembakaran, kekerasan dan kerusuhan.  Tercatat korban kerusuhan Wamena 32 tewas, 67 luka-luka, dan kerusakan bangunan rumah warga, kantor, kios, serta fasilitas umum.  

Gambar 1. Puncak percakapan dan liputan media seputar pergolakan Papua, periode 22 September- 5 Oktober 2019

Seperti yang terlihat di gambar 1 di atas, Wamena masih memuncaki perbincangan warganet dan topik pilihan sejumlah artikel media pada interest ‘Pergolakan Papua’. Lonjakan tertinggi yang terjadi pada tanggal 29 September berasal dari banyaknya netizen dan publikasi media yang membahas imbas dari kerusuhan 23 September, seperti aliran ribuan pengungsi dan sejumlah informasi dari pemerintah mengenai kondisi perkembangan Wamena. Periode pemantauan 22 September s.d. 5 Oktober, terdapat 3,708 pemberitaan media melibatkan isu Wamena, 107,915 cuitan pengguna Twitter & 510 unggahan video di kanal Youtube. Data ini tergolong tinggi, untuk kejadian yang bukan berlokasi di Ibu Kota.

Telah ada himbauan dari Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw yang menjamin keamanan di wilayah Wamena. Dia meminta kepada para pengungsi untuk kembali ke tempat tinggal mereka di `Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, lantaran kondisi keamanannya sudah mulai kondusif. “Ayo kembali ke Wamena, karena kami menjaga keamanan seluruh warga,” kata Paulus Waterpauw kepada warga yang mengungsi di halaman Masjid Al Aqsa Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura, Selasa (1/10). Dikutip dari Antara.

Namun pasca kejadian yang merenggut korban jiwa itu, Sabtu 5 Oktober 2019, kondisi Wamena masih belum sepenuhnya kembali normal. Warga masih waspada berjaga, gelombang pengungsi keluar dari Wamena masih memadati Bandara. Belum semua penduduk Wamena kembali ke rumah masing-masing. Mereka masih tinggal di lokasi yang dirasa aman.

“Sebanyak 11.646 orang terdata eksodus sejak 23 September hingga 2 Oktober 2019,” kata Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat, Kamis (3/10) seperti dilansir Antara. Ia mengatakan, sebanyak 7.467 orang meninggalkan Wamena dengan penerbangan Hercules TNI AU dan 4.179 orang menggunakan penerbangan komersial.

Pengungsi di Wamena saat ini sebanyak 4.844 orang, dengan rincian 2.102 orang di Kodim 1702/Jayawijaya, 726 orang di Polres Jayawijaya, 216 orang di Koramil 1702-03/Wamena. Lalu, sebanyak 118 orang di Sub Den Pom, 180 orang di Gereja Betlehem, 35 orang di Kantor DPRD, 96 orang di Yonif 756/WMS, 112 orang di Gereja Efata, 20 orang di Gedung Cipta Jaya, 63 orang di Masjid LDII. Terdata juga sebanyak 125 orang mengungsi ke Gereja Advent, 60 orang di Gereja El-Shadday, 61 orang di Masjid Pasar baru, 42 orang di Kalan TNI AU Wamena dan 426 orang tersebar di beberapa titik di Wamena.

Via aplikasi chat WA, saudara penulis di Wamena mengirimkan foto saat ronda dengan warga sekitar, mereka berjaga sambil membawa parang. Menurutnya warga sudah mulai beraktifitas seperti biasa. Namun masih bersliweran informasi tentang kerusuhan lanjutan. Jadi masih belum sepenuhnya aman, katanya. Kerusuhan Wamena ini menurutnya lagi lebih parah dari kejadian serupa ditahun 2000. Dimana keluarga penulis juga turut mengungsi keluar Jayapura.   

Isu terkini yang melibatkan Wamena

Gambar 2. Awan tema seputar isu yang melibatkan Wamena, periode 4-5 Oktober 2019. Menampilkan konten apa saja yang di turunkan portal berita, terkait Wamena.

Dari gambar 2, pada tanggal 4-5 Oktober 2019, portal berita masih ada yang menurunkan artikel tentang kerusuhan, pengungsi, korban. Belum ada atau belum banyak berita yang menulis tentang Wamena aman, situasi kondusif, jaminan pemerintah pulihkan rasa aman warga dan sejenisnya. Ini berarti kondisi memang belum normal sepenuhnya di Wamena.

Bandingkan awan tema dari Sorong di bawah ini, dimana sebagian besar media menurukan berita tentang pariwisata Sorong.

Gambar 3. Awan Tema dari Sorong yang sudah terlihat pulih sepenuhnya dari publikasi kerusuhan 19-20 Agustus 2019

Penyebabnya bisa jadi karena tidak ada korban jiwa di Sorong dan tidak sampai menyebabkan gelombang eksodus massal, sehingga kondisi Sorong lebih cepat pulih.

Semoga jaminan pemerintah dan permintaan maaf Gubernur Papua bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat dan menghadirkan rasa aman bagi warga Wamena khususnya dan semua penghuni Papua umumnya. Mari kita jaga Papua bersama. Pace Mace, kam tra kosong. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here