Prabowo & Jokowi Bersatu, Apa Kabar Cebong & Kampret

0
193

Selepas momen pilpres 2019-bahkan sampai saat ini, kita bisa menyaksikan betapa hebatnya kekuatan cebong dan kampret. Bagaimana perseteruan “mati-matian” mereka membela pilihannya. Mereka merupakan advocate bagi figur kesukaannya. Level keterlibatan (engagement) disini sangat tinggi sehingga mencapai advokasi.

Advocate atau promotor akan mendukung, membela dan membagikan hal yang positif tentang pilihannya melalui akun media sosial, serta mengajak /mempengaruhi orang lain agar sejalan dengan pikirannya. Sedangkan lawan promotor adalah detractor atau pencela, merupakan kritikus buruk dan mampu mempengaruhi banyak orang untuk menjauhi pilihan lawannya. Seseorang yang tidak suka dengan pemerintah dan secara terus menerus menyuarakan hal yang buruk pada pemerintah, mulai dari pajak, pembangunan, kebijakan, maka dia merupakan detractor pemerintah. Asal usul kata detractor merujuk pada kata Latin detrahere, yang bermakna “jatuhkan, tarik ke bawah, atau diremehkan.”

Tidak semua pengkritik merupakan detractor, misalnya yang tidak termasuk adalah kritik dengan tujuan membangun, memberikan opsi solusi bukan menjatuhkan. Sejarah munculnya kelompok cebong dan kelompok kampret, bisa dibaca pada hasil riset Evello sebelumnya.

Bagaimanakah pergerakan kelompok cebong dan kelompok kampret pasca dijadikannya Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan oleh Presiden Joko Widodo? Tanggal 21 Oktober 2019 Prabowo menyatakan kabar dirinya siap membantu pemerintah di bidang pertahanan. Pada momen Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah orang untuk mengisi kabinetnya. Apakah kampret merupakan promotor sejati, yang benar-benar mencintai Prabowo?

Kelompok Akun Cebong

Evello mendeteksi sepuluh akun paling aktif di Twitter milik kelompok cebong yang isinya menyerang kelompok kampret sebagai berikut :

Gambar 1. Sepuluh akun Twitter kelompok cebong yang paling aktif. Akun @Yunianti404 saat ini berstatus ‘Account suspend’. Sumber data : Pemantauan Evello Periode 1 Januari-20 Oktober 2019 di Twitter

Sepuluh akun ini konsisten mencela kelompok kampret dan Prabowo, sejak 1 Januari-20 Oktober 2019; walaupun ada beberapa akun yang postingan terakhirnya bulan Agustus 2019.

Menariknya, jika dilihat dari timeline postingan, akun-akun ini terlihat seragam waktu post-nya, atau dikenal sebagai akun bot; akun Twitter yang bekerjanya dikendalikan oleh software. Ya, Evello mampu mendeteksi akun bot ini, jelasnya bisa di lihat pada Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2. Postingan akun kelompok cebong yang cenderung seragam dan berpola.
Sumber data : pemantauan cebong dan kampret periode 1 Januari – 20 Oktober 2019

Akun ini sebelumnya di setting untuk melakukan post konten pada suatu periode waktu, misalnya sehari 3 kali post pada jam 06:00, 12:00, & 18:00. Dari pola yang seragam bisa dikatakan akun-akun ini dikendalikan orang yang sama. Dibuktikan lagi dari isi postingan yang juga sama.

Gambar 3. isi postingan kelompok cebong yang seragam. Sumber data: Pemantauan Evello Periode 1 Januari-20 Oktober 2019 di Twitter

Bagaimana reaksi kelompok cebong dengan merapatnya Prabowo ke istana, karena undangan Presiden Joko Widodo? Bisa kita lihat bersama dari capture tweap kelompok cebong periode 21-28 Oktober 2019, berikut.

Gambar 4. Isi cuitan kelompok cebong yang masih konsisten bermusuhan dengan kampret dan berisi dukungan ke Joko Widodo, pasca merapatnya Prabowo ke istana

Kelompok Akun Kampret

Gambar 5. Sepuluh akun twitter paling aktif milik kelompok kampret, rekaman data Evello periode 1 Januari – 20 Oktober 2019

Pemantauan data Evello Evello periode 1 Januari – 20 Oktober 2019, menunjukkan akun-akun paling aktif milik kelompok kampret. Namun dari sepuluh akun ini ada empat akun yang disuspend, seperti akun @muslichsolo, @Elang_Sutajaya1, @hadman96 dan @muslich_amuskan yang kini sudah tidak aktif. Tercatat sebelum di suspend, akun @muslichsolo membuat cuitan sebanyak 503 kali sejak 1 Januari 2019, atau sehari 2 kali post. Pola yang terlihat dari timeline semua akun dari kelompok kampret ini, sporadis, dan random post waktunya, tidak seragam, seperti terlihat pada Gambar 6 di bawah ini

Gambar 6. Pola post dari kelompok kampret yang acak dan waktunya seperti tidak terjadwal, sejak 1 Januari sampai 20 Oktober 2019.

Berbeda dengan pola postingan akun kelompok cebong, akun kelompok kampret ini terlihat random waktu postnya dan tampak tidak beraturan jumlah postnya. Pada periode pemantauan 1 Januari-20 Oktober 2019, akun ini post konten tidak seragam seperti ditunjukkan pada gambar 7 di bawah ini.

Gambar 7. Isi postingan kubu kampret berbeda satu dengan lainnya, seperti tidak ada kordinator aksi dan cenderung sporadis

Pasca 21 Oktober, postingan kelompok kampret ada yang mendukung Prabowo menjadi Menteri Pertahanan, ada juga yang pasif. Berikut rekaman Evello dari twitter periode 21-28 Oktober 2019.

Gambar 8 Respon kelompok kampret beragam menyikapi merapatnya Prabowo ke istana.

Epilog

Promotor tumbuh dari rasa sekadar aware menjadi kesukaan yang sangat, sampai rela berkorban demi junjungannya. Sebaliknya detractor hadir karena adanya rasa tidak suka pada sebuah figur/institusi. Ketidaksukaan ini bisa berasal dari perfoma individunya, ketidakpuasan kinerja atau respon terhadap suatu isu. Evello merekam semuanya dalam perseteruan kelompok cebong vs kelompok kampret; yang kini juga disebut sebagai togog & kadrun (kadal gurun).

  1. Top ten postingan terbanyak dari kubu Cebong menggunakan akun yang diprogram untuk merilis post Twitter dengan konten yang seragam. Berbeda dengan kelompok kampret yang terlihat tidak dikordinir dimana waktu, konten serta jumlah post dilakukan secara acak.
  2. Kejadian penting yang bisa dianggap sebagai upaya rekonsiliasi
    • Presiden Joko Widodo dan rivalnya di Pilpres 2019 Prabowo Subianto akhirnya bertemu. Pertemuan terjadi di stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (13/7/2019)
    • Dimintanya Prabowo Subianto menjadi Menteri Pertahanan oleh Presiden Jokowi yang pertama kali resmi di sampaikan di halaman istana negara tanggal 21 Oktober 2019
  3. Dua peristiwa ini tidak mampu meredam perseteruan cebong-kampret. Tidak terbukti bahwa kelompok cebong dan kelompok kampret melebur dan bergandengan tangan, pasca 21 Oktober.
  4. Poin ke-4 dibuktikan dari isi postingan kedua kubu pasca 21 Oktober, dimana kedua kubu masih saling serang. Isi cuitan kelompok cebong masih konsisten bermusuhan dengan kampret dan berisi dukungan ke Joko Widodo, pasca merapatnya Prabowo ke istana. Begitu juga dengan respon kelompok kampret ada yang mendukung Prabowo menjadi menteri pertahahan dan tetap istiqomah menyerang kelompok cebong.
  5. Mengamati dari tanggapan kubu kampret pasca 21 Oktober, golongan ini terpecah jadi dua; faksi yang memang cinta Prabowo dan pihak yang benci Joko Widodo. Tampak dari tidak masifnya dukungan terhadap keputusan Prabowo. Jadi siapapun nanti yang berseberangan dengan Joko Widodo, dalam hal ini pemerintah, akan mendapat dukungan sebagian golongan kampret.
  6. Dua kubu ini memiliki die hard promotor yang sangat solid, akan sangat menguntungkan bagi pihak yang bisa mengambil benefit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here