Perbandingan Komentar Facebooker
Perbandingan Komentar Facebooker

Dipercakapkan sebanyak 801.738 kali sejak 1 Januari hingga 16 Januari 2020 menyebabkan banjir di awal tahun 2020 menjadi momen paling spesial. Puncak percakapan bertemakan banjir 2020 terjadi pada Kamis 2 Januari 2020 dengan jumlah percakapan mencapai 161.791 tweet di media sosial twitter.

Banjir memang menjadi topik paling ramai memasuki tahun 2020 diluar percakapan Natuna, skandal asuransi Jiwasraya dan Asabri. Di kanal twitter, banjir dipercakapkan oleh 260.730 akun twitter.

Jika diperbandingkan dengan jumlah keterlibatan akun twitter, tema banjir diperbincangkan 69,90% lebih banyak dibandingkan isu Natuna dan Jiwasraya. Natuna dipercakapkan 59,522 akun twitter dan skandal Jiwasraya dipercakapan 52,717 akun twitter (Gambar 1)

Gambar 1. Perbandingan jumlah akun twitter yang terlibat dalam perbincangan bertema banjir, natuna dan jiwasraya periode 1-16 Januari 2020.

Sejumlah pihak menuding keramaian percakapan tentang banjir tak melulu obyektif. Perbincangan soal banjir dituding banyak pihak digunakan untuk kepentingan politik. Terutama untuk menjatuhkan Gubernur DKI saat ini, Anies Baswedan oleh kelompok yang kontra bernama cebong. Tentang kecurigaan ini, Evello pernah menyampaikan analisanya pada Kamis 2 Januari 2020 (Gambar 2).

Gambar 2. Kicauan Evello pada Kamis 2 Januari 2020

Mengacu pada Gambar 2, data yang dilansir pada 1 Januari 2020 memperlihatkan perbandingan antara keramaian percakapan banjir dan Anies.

Pada data terlihat meskipun banjir menerjang wilayah Jawa Barat, percakapan tentang Ridwan Kamil tidak signifikan. Keramaian percakapan lebih banyak membahas seputar kejadian di Jakarta dan tentu saja Gubernurnya, Anies Baswedan.

Lebih jauh data Evello memperlihatkan politisasi kasus banjir tak hanya menimpa Anies Baswedan, Presiden RI Joko Widodo juga terseret. Munculnya nama Jokowi dalam lautan tema percakapan banjir memperlihatkan pertempuran cebong vs kampret memang terjadi.

Dalam artikel Saat Prabowo Mulai Dilupakan, evello menemukan fakta bahwa pertempuran cebong dan kampret justru makin seru dan spesifik dalam konteks perebutan pengaruh di DKI Jakarta. Posisi Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta menjadi lahan baru pertikaian cebong dan kampret.

Data evello menunjukkan bahwa banjir awal tahun 2020 tak hanya meramaikan jagad media sosial Indonesia. Pemberitaannya pun masif bertebaran di internet. Pada periode 1-16 Januari 2020 jumlah berita dengan tema banjir mencapai 23.813 artikel berita.

Di kanal facebook, berita-berita bertema banjir telah tersebar alias dibagikan oleh pengguna facebook sebanyak 77,597 kali. Adapun jumlah reaksi diberikan oleh pengguna facebook terhadap berita-berita banjir mencapai angka 134.474. Total nilai engagement untuk berita-berita banjir di facebook mencapai angka 180.372.

Jelinya Kelompok Cebong Bertarung Opini

Ada banyak tema menarik yang bisa diamati dalam pantauan mesin big data evello berkaitan dengan banjir awal tahun 2020. Salah satunya mengamati perilaku kelompok cebong dalam peperangan opini memanfaatkan isu banjir.

Sesaknya pertarungan opini tentang tanggung jawab banjir di kanal twitter dimanfaatkan oleh kelompok cebong dengan memanfaatkan cara lain. Menyebarkan berita dengan sentimen emosi ke kanal facebook.

Seperti diketahui, metode ini sangat efektif dilakukan di era yang disebut sebagai Post-truth. Post-truth sendiri merujuk pada keadaan di mana emosi dan keyakinan pribadi lebih berpengaruh membentuk opini publik daripada fakta-fakta objektif. Hal ini terlihat dari 3 berita terbanyak disebar pengguna facebook tentang Anies periode 1-16 Januari 2020. Ketiga berita seperti pada Gambar 3 memiliki nilai sentimen yang tinggi. Baik menguntungkan ataupun merugikan Anies.

Gambar 3. Tiga berita terbanyak disebar pengguna facebook tentang Anies Baswedan memiliki sentimen tinggi, baik sentimen positif buat Anies (berita ke-2) dan sentimen negatif (berita 1 dan 3).

Berdasarkan gambar 3 di atas, artikel kompasiana berjudul “Akhirnya Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Banjir Jakarta” dengan gambar Jokowi menempati berita terbanyak disebar facebooker berkaitan dengan Anies dan banjir Jakarta. Artikel ini sendiri telah dibaca sebanyak 106.255 kali hingga berita ini dimuat.

Jika ditelaah lebih jauh, artikel ini tidak memuat sumber yang dapat dipercaya bahwa penanganan banjir Jakarta memang diambil alih oleh pemerintah pusat. Isi artikel lebih banyak mengulas pendapat pribadi dari penulisnya soal penanganan banjir. Judul dari tulisan inilah yang menarik disebar untuk membentuk opini bahwa Anies tidak bisa menangani banjir Jakarta. Gambar berikut memperlihatkan bahwa artikel tersebut menjadi bahan propaganda bagi kelompok kontra Anies (cebong).

Gambar 4 memperlihatkan bagaimana artikel tersebut disebar di facebook dengan narasi kegagalan Anies menangani banjir Jakarta. Komentar yang bertebaran sebagian besar menganggap Anies telah gagal. Seperti kutipan salah satu komentar akun facebook bernama Tumiran: “Itu bukti pusat gak percaya dgn anis sebagai gubernur DKI. Jika punya muka mending anis mundur”. Jika ditelisik berdasarkan biodata yang ada, akun Tumiran mengaku tinggal di Jember Jawa Timur.

Gambar 4. Sebaran artikel kompasiana yang dilakukan oleh kelompok cebong di kanal Facebook. Artikel ini mendapat dukungan luas dari kelompok kontra Anies sebagai bahan pembentukan opini.

Judul artikel ini menarik. Pada 3 Januari 2020, artikel ini selain dibagikan sebanyak 3.448, dikomentari sebanyak 15.460 dan menuai 38.384 reaksi facebooker. Total nilai engagement artikel ini pada 3 Januari 2020 mencapai 57.292.

Jika dilakukan perbandingan sebaran artikel tersebut per tanggal 3 Januari hingga 16 Januari 2020, persebaran artikel tidak berhenti. Pengguna facebook tetap membagikan artikel tersebut di dinding akun dan atau grup facebook seperti terlihat pada Gambar 5 berikut.

Gambar 5. Perbandingan sebaran artikel berjudul Akhirnya Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Banjir Jakarta per 3 Januari dan 16 Januari 2020.

Pada periode 3 Januari 2020, artikel kompasiana berjudul “Akhirnya Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Banjir Jakarta” merupakan berita dengan jumlah komentar terbanyak di facebook untuk kategori kata kunci pencarian “banjir” dan “anies baswedan”. Gambar 5 memperlihatkan adanya sebaran lebih dari 2000 akun facebook untuk antara tanggal 3 hingga 16 Januari 2020.

Gambar 6. Artikel kompasiana berjudul Akhirnya Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Banjir Jakarta per 3 Januari 2020 menuai 15.460 komentar pengguna facebook.

Tingginya sebaran artikel kompasiana seperti pada Gambar 6 di atas mendorong tingginya jumlah komentar pengguna facebook. Pantauan pada periode 16 Januari 2020 jumlah komentar pengguna facebook meningkat menjadi 31.457 komentar dari sebelumnya 15.460 komentar.

Jumlah reaksi pengguna facebook terhadap artikel kompasiana “Akhirnya Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Banjir Jakarta” juga ramai sepanjang periode 3 hingga 16 Januari 2020. Reaksi tersebut menunjukkan berita tersebut viral di facebook ditengah ramainya saling serang soal banjir Jakarta di twitter (Gambar 7).

Gambar 7. Perbandingan reaksi pengguna facebook untuk artikel berjudul Akhirnya Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Banjir Jakarta per 3 Januari dan 16 Januari 2020.

Kesimpulan

  1. Banjir pada awal Januari 2020 menjadi alat politis bagi kelompok cebong vs kampret untuk saling menjatuhkan. Data evello menunjukkan adanya penyerangan dari kelompok cebong terhadap Anies Baswedan dan pembelaan sekaligus penyerangan balik terhadap kelompok cebong.
  2. Hasil penelusuran terhadap fasilitas Virality Effect menemukan adanya artikel kompasiana dengan judul berita Akhirnya Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Banjir Jakarta per 3 Januari 2020 dengan sebaran sangat tinggi di Facebook.
  3. Sebaran ini menunjukan kemampuan kelompok cebong dalam menggeser opini dari riuhnya pertarungan di kanal twitter untuk menjangkau warganet lainnya melalui kanal facebook.
  4. Sebaran artikel kompasiana Akhirnya Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Banjir Jakarta menguntungkan Jokowi sebagai obyek kampanye dan sekaligus menyebarkan opini kegagalan Anies di DKI Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here