Kesimpulan tersebut diperoleh oleh aplikasi Big Data Evello setelah melakukan penilaian terhadap isu Jiwasraya pada periode 1-15 Februari 2020. Dibandingkan isu lainnya, seperti banjir dan virus corona, kasus jiwasraya diberitakan hanya 1.656 kali di media daring. Sementara, berita banjir telah dimuat 4.599 dan virus corona mendapat perhatian penuh publik dengan pemberitaan sebanyak 21.782 pemberitaan.

Analisa melalui jejaring Social Network Analytics (SNA) seperti terlihat pada gambar muka artikel ini juga memperlihatkan tingkat keramaian yang rendah. Hal tersebut terlihat berbeda ketika dilakukan pembandingan terhadap isu banjir. SNA memperlihatkan isu tersebut ramai dan padat menjadi perbincangan dan bahkan menjadi perdebatan publik.

Analisa SNA untuk Percakapan Bertema Banjir 1-6 Februari 2020
Gambar 1. Analisa SNA untuk Percakapan Bertema Banjir 1-6 Februari 2020

Demikian juga dalam jumlah percakapan di kanal twitter. Sepanjang pemantauan periode 1-15 Februari 2020 percakapan isu jiwasraya mencapai 90.794 kicauan. Sementara, isu banjir telah dipercakapkan sebanyak 160.456 kicauan.

Jika dibandingkan dengan merebaknya virus corona, kasus jiwasraya dapat disimpulkan bukan menjadi perhatian publik. Corona diperbincangkan sebesar 285.944 kicauan. Jauh meninggalkan percakapan tentang jiwasraya.

Sebaran berita-berita tentang jiwasraya di media sosial facebook pun tidak begitu menggembirakan. Sepanjang 1-15 Februari 2020, berita kasus jiwasraya tersebar sebanyak 2.978 sebaran. Sementara, banjir disebarkan sebanyak 11.542.

Persebaran berita virus corona di facebook mencapai 117.291 pada 1-15 Februari 2020 dengan jumlah reaksi pengguna aplikasi milik Zuck tersebut mencapai 314.439. Sementara, reaksi pembaca berita jiwasraya di facebook hanya mencapai 6.068 reaction. Hanya 2% reaksi publik melalui facebook terhadap isu jiwasraya dibandingkan corona.

Kesimpulan

  1. Sejumlah isu terbukti lebih diminati masyarakat Indonesia dibandingkan isu kasus jiwasraya. Hal ini terlihat dari sejumlah alat ukur yang dipakai oleh evello dengan membandingkan isu jiwasraya dengan isu lainnya seperti banjir dan virus corona.
  2. Media dan Media Sosial terbukti tidak dapat dimaksimalkan oleh fraksi Demokrat dan PKS di DPR RI sebagai alat penekan publik terhadap pembentukan pansus jiwasraya.
  3. Sebaiknya fraksi Demokrat dan PKS di DPR RI mengedukasi masyarakat melalui digital campaign tentang pentingnya pembentukan pansus jiwasraya. Jika tidak dilakukan, masyarakat lebih banyak memperhatikan isu-isu lainnya seperti banjir, corona dan bahkan isu-isu lainnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here